Minggu, 04 September 2011

Dasar-Dasar Propaganda


Dasar-Dasar Propaganda
Oleh      :
Dwi Nofi Andhiyantama
082421810002
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang


Contoh Kalimat Propaganda       :
Kalau Merah Biasanya Bahaya, Kebakaran
(J. Kalla – 23 Desember 2008)



“Itu propaganda Amerika”, kalimat tersebut merupakan suatu hal yang sering didengar terutama dikalangan masyarakat anti kapitalisme barat. Berbicara soal Propaganda, sejatinya kita akan berbicara tentang cara penyampaian pesan yang bertujuan guna mempengaruhi orang lain, kata Propaganda berasal dari bahasa latin Propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan. Menurut Garth S. Jowett dan Victoria O’Donnell dalam bukunya “Propaganda And Persuasion”, Propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Sedangkan menurut Ensyclopedia International, Propaganda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidaknya pesan yang disampaikan. Sastropoetro juga memberikan penjelasan mengenai definisi Propaganda ini sendiri, menurutnya propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerima sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator.

Suatu Propaganda acap kali berisi informasi yang menyesatkan, hal ini disebabkan karena fakta yang terjadi dalam suatu peristiwa tidak disampaikan secara keseluruhan, namun hanya dipilih beberapa saja guna memicu reaksi kelompok yang menjadi sasaran agar sesuai dengan kehendak sang pelaku propaganda atau yang akrab disebut propagandis. Menurut Nimmo, seorang Propagandis akan memiliki suatu daya tarik tersendiri dalam penyampaian suatu propaganda, apabila memenuhi faktor-faktor berikut:    
1.       Status Komunikator
Dalam suatu propaganda sangatlah dipengaruhi oleh status seorang propagandis itu sendiri. Seperti seorang pejabat pemerintahan, jurnalis, mahasiswa atau bahkan tokoh agama sekalipun , akan lebih dipercaya masyarakat akan hal yang disampaikannya,  sehingga pola pikir masyarakat akan dapat terpengaruh olehnya. Sebab semakin tinggi status seorang propagandis maka daya persuasifnya akan semakin kuat.
2.       Kredibilitas Komunikator
Tidak semua sasaran propaganda akan meyakini apa yang dikatakan oleh seorang propagandis walaupun ia memiliki status yang kuat, salah satu hal yang cukup penting adalah mengetahui persepsi masyarakat tentang propagandis tersebut. Apabila sasaran propaganda berpersepsi bahwa propagandis tersebut adalah orang yang benar-benar berkompeten dan teruji maka propaganda yang dicanangkan akan efektif. Namun berbanding terbalik apabila persepsi terhadap propagandis itu sendiri sudah jelek maka tingkat keberhasilan propaganda akan kecil.
3.       Daya Tarik
Selain 2 point diatas akan sebuah keberhasilan propaganda, yang tak dapat dipungkiri adalah daya tarik seorang propagandis ini sendiri, dalam hal ini cenderung mengarah kepada kepribadiannya, performanya, dan tingkat percaya dirinya. Perlu dipahami hal ini juga akan meningkatkan daya persuasi propaganda tersebut.
Hal selanjutnya yang juga penting dalam sebuah propaganda adalah pesan yang akan disampaikan guna mempengaruhi pola pikir sasaran propaganda. Dalam propaganda pesan yang disampaikan tidaklah boleh bersifat ceplas-ceplos namun haruslah bersifat persuasif, dan apabila ada suatu kesimpulan yang akan diambil  dari propaganda tersebut haruslah disampaikan secara jelas dan tidak dibiarkan sasaran propaganda untuk menduga-duga sendiri. Dalam penyusunan suatu pesan propaganda akan lebih mengena sasaran propaganda apabila pesan tersebut didukung oleh :
1.       Sumber terpercaya dan diperkuat dengan data, namun juga harus diinggat kembali bahwa tidak semua fakta ditampilkan dalam sebuah propaganda, hanya fakta yang memperkuat kepentingan propagandis saja.
2.       Pesan tersebut memungkinkan, dalam hal ini pesan yang disampaikan harus dapat membentuk pola pikir sasaran propaganda bahwa sikap yang diharapkan dalam propaganda tersebut memungkinkan secara teknik, politik dan ekonomi.
3.       Pesan tersebut haruslah relevan, dengan dikemukakan fakta dan kondisi yang ada dalam pesan tersebut, pesan tersebut juga harus bernafaskan pada kemampuan untuk menyelesaikan suatu persoalan yang ada disasaran propaganda, sehingga sasaran propaganda akan berpikir bahwa pesan dalam propaganda tersebut merupakan jawaban dari masalah yang dihadapinya.
4.       Pesan memiliki Prioritas Tinggi, dalam artian, propagandis harus dapat membentuk pola pikir bahwa sikap yang diinginkan oleh propagandis tersebut harus segera dilakukan oleh sasaran propaganda karena sikap tersebut   merupakan suatu keharusan dan tidak ada pilihan lain juga tidak dapat ditunda-tunda lagi demi kesejahteraan sasaran propaganda itu sendiri.

Dalam beberapa kasus muatan pesan propaganda terkadang memuat suatu ancaman, namun hal ini menurut pengalaman penulis pribadi sedapat mungkin dihindari karena penggunaan ancaman tersebut bagaikan pedang bermata dua, karena acap kali penggunaan ancaman akan menjadi senjata makan tuan kepada propagandis itu sendiri. Yang juga tak kalah penting dalam sebuah propaganda adalah pemilihan media, jangan sampai apabila propaganda telah dibuat secara baik dan berkualitas harus gagal dikarenakan pemilihan media yang kurang tepat, dalam pemilihan media kita juga harus memahami media apa yang menjadi favorit dari sasaran propaganda. Dalam hal ini jangan sampai kita memilih media propaganda tidak tepat sasaran, sebagai contoh apabila sasaran propaganda kita adalah para buruh tani didaerah terpencil dan kita menggunakan media internet untuk mencapaikan propaganda kita maka jelas sudah tidak akan berhasil, intinya cocokan pada kecenderungan sasaran propaganda terhadap suatu jenis media. Selain itu juga cukup penting memilih media yang dipercaya orang, tidak semua orang menganggap segala media adalah benar, terdapat kecenderungan orang tidak percaya dengan suatu media, contoh masyarakat tidak percaya dengan media cetak “A” karena media cetak tersebut milik seorang mantan narapidana koruptor dan lebih percaya pada media cetak “B” karena milik seorang pemuka agama yang terpuji.

Dalam buku “A Psychological Warfare Casebook”, William E Daughtry dan Morris J. memaparkan bahwa propaganda berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.       White Propaganda
Dalam propaganda jenis ini sumber propaganda disampaikan secara jelas dan terbuka, propaganda model ini seringkali disebut dengan overt propaganda dan juga commercial propaganda, hal ini karena biasanya propaganda jenis ini ramai pada saat kampanye pemilu dan bersifat pengiklanan.
2.       Black Propaganda
Propaganda ini bersifat seolah memberikan sumbernya, namun sebenarnya bukan sumbernya dan cenderung sumber tersebut tidak dapat di konfirmasi kebenarannya dan sumbernya juga tidak diketahui secara jelas. Propaganda model ini seringkali ditemui dalam permainan tuduhan, terror, dan perang opini.
3.       Grey Propaganda
Adalah propaganda yang bersifat seolah menunjukan sumbernya dari pihak yang netral, namun sejatinya sumbernya adalah dari pihak lawan. Biasanya pelaku propaganda ini menghindari adanya identifikasi dari pihak manapun.

Penyampaian suatu tujuan propaganda, setidaknya dapat dibedakan secara terbuka atau tertutup, propaganda terbuka (Revealed Propaganda) adalah penyampaian tujuan yang bersifat vulgar, sedang propaganda tertutup (Concealed Propaganda) adalah penyampaian tujuan yang bersifat kabur. Jacques Ellul memberikan perbedaan antara propaganda politik dan propaganda sosiologi, propaganda agitasi dan propaganda integrasi, propaganda vertikal dengan propaganda horisontal.

Propaganda Politik adalah suatu propaganda yang melibatkan para elite politik, partai politik dan golongan yang berpengaruh pada pencapaian tujuan strategis dan taktis, dan cenderung berjangka pendek.  Berbeda dengan Propaganda Sosiologi yang bersifat terselubung, namun efeknya akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, jenis propaganda ini seringkali dilakukan secara doktrinisasi terhadap suatu pandangan hidup tertentu, yang kemudian pandangan hidup itu akan memasuki kedalam setiap sistem yang ada dimasyarakat.

Lain lagi dengan propaganda Agitasi, propaganda jenis ini bersifat membuat orang bersedia mengorbankan seluruh jiwa raganya dalam mewujudkan tujuan yang diinginkan propagandis. Dalam propaganda ini seorang propagandis juga harus dapat menjaga semangat para pengikutnya agar tetap setia pada tujuan propaganda tersebut. Kemudian ada juga propaganda yang bersifat mempersatukan tujuan jangka panjang agar orang mengabdi pada tujuan ini, padahal biasanya tujuan yang dimaksud dalam propaganda ini tidak akan pernah terwujud, yaitu propaganda Integrasi. Lalu Propaganda Vertikal yaitu propaganda yang bercirikan one to many , artinya propaganda jenis ini hanya berdasar pada komunikasi satu arah saja, yaitu dari propagandis kepada sasaran propaganda, dan sangat mengandalkan media massa sebagai penyebarannya. Selanjutnya Propaganda Horisontal  yaitu propaganda yang mendasarkan pada komunikasi interpersonal atau interorganisasi, maka dari itu dalam propaganda ini peran media massa cenderung tidak dibutuhkan.

Dalam penyampaian pesannya propaganda seringkali hanya berbentuk gambar atau simbol, hal ini ditujukan agar sasaran propaganda tidak menyadari akan arah dan tujuan dari propagandis tersebut. Metode Propaganda sendiri terbagi menjadi 3 yaitu metode koersif , yaitu propaganda dengan jalan menakut-nakuti sasaran propaganda akan bahaya suatu hal dimana nantinya sasaran propaganda secara tidak sadar akan bertindak sesuai dengan apa yang dicanangkan oleh propagandis. Kemudian metode persuasif dalam metode ini sasaran propaganda akan bertindak secara sukarela untuk melaksanakan propaganda tersebut secara tidak sadar. Metode pervasif  , dimana dalam metode ini muatan pesan yang ada selalu disampaikan secara meluas dan terus-menerus sehingga nantinya baik disadari atau tidak sasaran propaganda akan melakukan tujuan yang dimuat dalam propaganda.

Dalam menjalankan suatu propaganda dibutuhkan teknik-teknik khusus seperti, name calling yaitu menjuluki lawan kita dengan panggilan yang bermakna negatif. Bandwagon yaitu propaganda tersebut seolah mengandung dukungan dari banyak orang, contoh : “Ribuan orang mengapresiasi baik kinerja  Presiden” dalam frase ini tidak disebutkan secara valid kata “ribuan orang” tersebut berjumlah berapa orang dan bukti nyatanya jumlah tersebut. Transfer Technique yaitu suatu teknik yang mengasosiasikan suatu hal dengan kata yang baik maupun kata yang buruk, contoh : orang pintar minum T***K A***N, kata pintar tersebut bermakna positif sehingga orang yang membeli produk tersebut merasa harga dirinya terangkat. Card Stacking yaitu pensortiran suatu fakta maupun data hingga hanya melihat dari sudut pandang kita saja sementara fakta lain tidak dikedepankan, hal ini sering muncul saat kampanye dimana partai-partai hanya menunjukan sisi keberhasilannya saja namun tidak pada beberapa fakta yang gagal, bahkan seringkali hal gagal tersebut dibantahnya dan dikatakan berhasil dengan jalan memanipulasi fakta dan data. Selanjutnya Plain Folks dimana suatu teknik yang mana propagandis akan menunjukan Angel Side-nya seperti ramah, pemurah, peduli dengan nasib rakyat, cara ini lazim digunakan para calon elite politik saat mengunjungi masyarakat pada waktu kampanye. Yang terakhir Testimonial yaitu cara dengan menampilkan sosok yang bersaksi akan kebaikan dari propagandis tersebut, contohnya saat iklan kampanye partai politik di TV, seringkali ada sosok petani yang mengatakan dirinya sejahtera setelah Negara dipimpin Presiden “A”.

Propaganda merupakan jurus ampuh bagi seseorang yang menginginkan kehendaknya agar dapat diamini oleh orang lain terutama sasaran propaganda. Apabila seorang propagandis dapat menancapkan taring propagandanya secara sempurna maka sejatinya ia telah layak untuk disebut sebagai seorang penguasa, karena secara konsep otoritarian definisi kekuasaan adalah alat untuk memaksa orang lain guna mengikuti kehendak penguasa. Jika meminjam istilah Andi Mallarangeng yaitu “dibutuhkan ilmu kodok bagi mereka yang haus kuasa”, maka propaganda menurut penulis dapat dikatakan sebagai salah satu “ilmu kodok” itu, ataukah mungkin istilah Joko Santoso HP yaitu Jalan Tikus Menuju Kekuasaan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut