Rabu, 16 November 2011

ANTARA AKU, KHADAFI DAN AMERIKA


ANTARA AKU, KHADAFI DAN AMERIKA
OLEH:
DWI NOFI ANDHIYANTAMA
MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS WIDYAGAMA MALANG

Sejatinya melihat berita dilayar televisi soal kematian sang pemimpin nyentrik moamar khadafi, justru membuatku tidak berbahagia bagai mendapat berlian yang jatuh dari langit seperti apa yang dirasakan oleh warga dunia umumnya. Memang benar aku bukanlah seorang warga Libya atau warga yang bermukim sekitar Libya, bahkan akupun tidak pernah meletakan kakiku di Negara tersebut. Jadi apa mungkin karena itu aku tidak bahagia?
Aku tidak ingin mempersoalkan apakah seharusnya aku bahagia atau tidak mendengar berita khadafi telah tiada. Karena lagipula juga bukan hal yang menarik untuk dibahas soal ketertarikanku ini, toh . . . aku juga bukan seorang Obama atau anak dari Khadafi.  Oke kita mulai mengapa aku tidak tertarik dengan berita tersebut karena. Satu, menurutku setelah kepergian seorang khadafi, Libya tidak akan menjadi lebih baik malah dapat menjadi lebih buruk. Mengapa? Terbesitkah dalam pikiran kita mengapa sang Amerika seperti geli sendiri melihat ulah Khadafi kepada rakyatnya? Amerika selalu mendalilkan itu karena kita peduli HAM dan juga demokrasi. Apakah memang betul Amerika adalah Power Ranger-nya demokrasi dan juga HAM? Saya rasa tidak. Kalau toh pun Amerika memang peduli akan hal itu tentu kekejaman seperti invansinya ke Irak dan Afganistan tidak akan terbuahkan. Atau mungkin yang masih cukup segar di ingatan kita bahwa Amerika malah mengamini perbuatan biadab Israel kepada Palestina. Jadi apakah Amerika merupakan Negara beradab atau malah biadab?
Berbicara soal Khadafi mungkin perlu kita pahami bahwa Libya merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia,  dan celakanya saat itu sang pemimpin Khadafi tidak mau bekerja sama dengan Amerika bahkan malah menolak sekutu untuk masuk ke Libya. Inilah yang membuat Amerika bersama bandit-banditnya murka.
Melihat kondisi di Mesir yang telah menjatuhkan pemimpinnya tersebut sejatinya memang akan terjadi sebuah efek domino dimana Libya juga mendapatkan kartu domino itu. Khadafi yang telah berkuasa berpuluh-puluh tahun ini memang tidak mencerminkan adanya kehidupan demokrasi disana dan juga beberapa berita soal pelanggaran HAM yang dilakukannya. Bagai mendapat gawang tanpa kipper, isu tersebut segera diangkat kemuka publik oleh Amerika sehingga membuat warga Libya semakin geram kepada Khadafi. Pasukan pemberontak yang dahulu dapat ditaklukan oleh khadafi kini berubah menjadi suatu pasukan yang sangat kuat, bagaimana tidak Amerika memberikan bantuan kepada pasukan pemberontak itu sehingga melemahkan Khadafi. Yang justru nampak semakin bodoh dan aneh ketika Amerika melakukan Invansinya kepada Libya, disini terjadi suatu pertanyaan besar mengapa Amerika sampai turun tangan terhadap kegerahan rakyat Libya hingga member dukungan kepada pemberontak dan juga Invansi ke Libya.
Mungkin perlu untuk dicatat bahwasanya yang dilakukan Amerika atas invansinya adalah sama dengan penjajahan, hal ini di sebabkan Libya adalah Negara berdaulat dan merdeka lalu dengan masuknya Amerika apakah ini bukan suatu penjajahan? Lalu mana semangat yang dijargonkan Amerika? Masuknya amerika sendiri selain layak untuk dicap sebagai penjajah, adalah fungsi yang diembannya tersebut adalah sebagai apa? Kalau amerika masuk sebagai mediator, tentu itu merupakan perbuatan yang dipuji oleh seluruh malaikat tapi ini tidak malah Amerika memperburuk keadaan. Sungguh menjijikan sekali apa yang dilakukan Amerika terlebih apa yang dikatakan sang mantan anak menteng tersebut yang mengatakan bahwa kematian khadafi merupakan pencapaian oleh rakyat Libya, Amerika akan memberikan keleluasaan kepada rakyat Libya untuk memnetukan nasibnya sendiri. Lahh . . .ini memang amerika siapa? Apakah dia adalah Tuhan yang turun dari langit yang kemudian memusnahkan seorang Fir’aun? Hingga berbicara soal kebebasan nasib. Dapat diniscayakan setelah kematian Khadafi pasti Amerika juga mencari kadernya untuk mendapat kursi penguasa di Libya agar minyak disana dapat dikuasainya. Dan akan berimbas seperti di negeri kita ini, yang katanya pusat tambang emas, tetapi rakyatnya masih saja sulit membeli beras.
Menurut pakar dari Universitas Indonesia, dikatakan bahwa setelah menggoyang Libya selanjutnya akan menggoyang Iran yang dipimpin oleh Ahmadinejad, dan metode yang akan digunakan Amerika akan berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya yaitu metode Black Propaganda dan Propaganda Integrasi, karena  posisi Ahmadinejad masih sangat kuat di Iran tentu butuh pola permainan khusus untuk dapt meluncurkan taji haramnya tersebut. Tetapi penulis malah beranggapan yang akan digoyangkan adalah Negara Yaman melihat kondisi terbaru dimana pemimpin Yaman diminta mundur oleh Liga Arab. Tak tahulah mari kita menonton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut